Membuka Diri Untuk Belajar Minggu, 04 November 2018

Membuka Diri Untuk Belajar Image © ISS Indonesia.

Hidup ini laksana roda pedati yang berputar. Takala kita di atas, lihatlah ke bawah dan kita akan lebih bijak memahami arti kedidupan. Namun di saat kita berada di posisi terbawah, angkatlah kepala dan segera bangkit. Perubahan tidak akan terjadi bagi mereka yang berdiam diri.

Filsafat kehidupan inilah yang menggerakan hati dan pikiran Dwi Wahyuni untuk berani meninggalkan kota kelahirannya, Lampung dan berlari mengejar cita-cita di Jakarta 29 tahun silam. “Saya ingin mengubah kehidupan keluarga saya menjadi lebih baik,” ujar anak ke-2 dari 10 bersaudara ini.

Kerasnya persaingan mencari kerja di Jakarta mengantarkan Dwi kepada sebuah usaha konveksi di daerah Kapuk, Jakarta. Tiga tahun dilaluinya tanpa mengeluh karena dia yakin roda kehidupan terus berputar.

“Saya melihat banyak orang yang punya pekerjaan bagus. Saya berpikir, kalo mereka saja bisa, masa’ saya ga’ bisa,” ucap Dwi.

Demi mendapat pekerjaan yang lebih baik, wanita penggemar soto ayam ceker, ini tidak segan-segan mengambil program Paket C (setingkat SMA) untuk memperkaya wawasannya.

Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya yang berupaya mencapai kehidupan yang lebih baik. Awal 1999 adalah titik balik dalam kehidupan Dwi. “Saya menemukan perusahaan yang bagi saya adalah perusahaan berlian – ISS Indonesia. Saat itu, ada peralihan di Jakarta Internasional School (sekarang Jakarta Intercultural School) dari perusahaan lain ke ISS,” kenang Dwi.

Sejak bekerja di ISS, Dwi merasakan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Para atasan bukan sekedar mengawasi cara kerja bawahannya, tetapi juga memberi pelatihan dan arahan. “Rasanya rugi besar kalo saya datang terlambat ke tempat kerja dan tidak mengikuti briefing yang diberikan atasan. Karena itu ‘kan informasi,” ungkap Dwi, yang sering membaca materi SOP (standard operating procedures) sebagai cleaner  sembari menemani anaknya tidur – bahkan kerap kali hingga ia pun tertidur.

Bekerja gigih, jujur, saling bantu serta membuka diri untuk kritik yang membangun akhirnya mengantar wanita berkacamata minus ini pada posisi site head pada 2012. Lebih dari separuh perjalanan karirnya di ISS Indonesia dihabiskan di area rumah sakit. Bukan tanpa maksud Dwi memilih bekerja di area rumah sakit. Wanita yang gemar membuat kue bolu ini sebenarnya sangat takut melihat darah dan jenazah. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Dwi memilih area rumah sakit sebagai tempat pemulihannya. Sebuah proses yang tidak mudah karena dia harus memaksa diri menghadapi ketakutan dan pada akhirnya berhasil mengalahkan rasa takutnya.

Bekerja di area rumah sakit mendatangkan tantangan tersendiri bagi Dwi dan teman-temannya. Selain terkait higienitas, mereka dihadapkan pada hal-hal yang untuk sebagian orang menakutkan atau menjijikkan. Misalnya, darah di ruangan operasi atau UGD, muntahan pasien, hingga sosok jenazah.

Ada pembelajaran bagus yang bisa diambil dari perjalanan Dwi, yaitu dalam menggapai cita-cita kita acap kali berhadapan dengan ketakutan. Namun, ketakutan tersebut harus dihadapi dengan cara melengkapi diri dengan proses belajar. Belajar dari siapa saja dan melalui media apa saja. Teman sejawat, atasan, klien, bahkan dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya, kita dapat belajar dari mereka.

Ingin memiliki usaha kuliner sendiri adalah episode berikutnya dari perputaran roda kehidupan Dwi bersama keluarga. Sebuah episode yang mendapat dukungan kuat dari suami tercinta sebagaimana dukungan besar yang diterimanya saat ini.

Perjuangan mengantar kesepuluh putra-putrinya pada kehidupan mandiri tentulah tidak terlepas dari kucuran keringat bahkan curahan air mata. Apa yang ditunjukkan Sang Ibunda adalah materi pembelajaran norma kehidupan yang sangat berharga buat anak-anaknya.

“Ibu adalah sosok wanita pekerja keras yang selalu mengajarkan soal kejujuran dan sikap pantang menyerah kepada kami,” ujar Dwi. 

Pesan lain Sang Ibu yang terus terngiang dalam benak Dwi adalah agar selalu melandasi setiap tindakan dengan ibadah kepada Sang Pencipta.

“Ibu tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang serta sabar membina putra-putrinya. Beliau adalah sosok yang senantiasa berada didalam doa-doa kami,” tambah Dwi lagi.

Seperti Sang Surya yang enggan berhenti memancarkan sinarnya demi kehidupan di muka bumi, demikianlah nilai-nilai luhur kehidupan dari Sang Ibu terus merasuk dalam hati dan pikiran Dwi. Nilai-nilai positif yang juga akan terus mengalir tersebar luas dan terpancar nyata.


0 Komentar